PERAYAAN SABDA TANPA IMAM MINGGU BIASA XXXIII TAHUN A (15 November 2026)
PRAEDICAREVOICE.COM -- Setiap tanggal 26 Oktober, sejumlah tradisi Katolik mengenang Santo Evaristus. Ia adalah Paus kelima Gereja Roma dan penerus Paus Klemens I.
Santo Evaristus memimpin Gereja pada masa peralihan dari abad pertama ke abad kedua, ketika umat Kristen masih hidup di bawah tekanan Kekaisaran Romawi dan Gereja sedang mengembangkan struktur pelayanannya.
Evaristus, yang juga disebut Aristus, dipercaya menjadi Uskup Roma sekitar tahun 98 atau 99 hingga sekitar 106 atau 107.
Ia termasuk dalam daftar paus awal yang digunakan oleh Santo Ireneus dan Santo Hipolitus, serta muncul sebagai penerus langsung Santo Klemens I.
Sumber-sumber kuno memberikan lamanya masa jabatan yang sedikit berbeda. Eusebius menyebut sekitar tujuh, delapan, atau sembilan tahun, sementara berbagai versi Liber Pontificalis menyebut sembilan hingga tiga belas tahun.
Enciclopedia dei Papi yang diterbitkan Treccani mencatat bahwa Liber Pontificalis menyebut Evaristus memimpin selama sembilan tahun, sepuluh bulan, dan dua hari.
Menurut Liber Pontificalis, Evaristus berasal dari keluarga Yunani dan merupakan anak seorang Yahudi bernama Yudas yang berasal dari Betlehem.
Ia kemudian menjadi Kristen, melayani sebagai imam di Roma, dan akhirnya dipilih sebagai Uskup Roma setelah Paus Klemens I.
Namun, para sejarawan menekankan bahwa hampir seluruh informasi biografis tentang Evaristus berasal dari Liber Pontificalis, sebuah kumpulan catatan kepausan yang disusun dan direvisi pada abad-abad kemudian. Karena itu, sebagian rincian hidupnya tidak dapat diverifikasi dengan sumber kontemporer.
Masa jabatan Evaristus berada pada masa ketika Gereja Roma sedang tumbuh dari komunitas-komunitas kecil menjadi jaringan pelayanan yang lebih teratur.
Ia memimpin pada masa pemerintahan Kaisar Trajanus, ketika umat Kristen masih menghadapi risiko penganiayaan.
Tradisi Gereja mengaitkan Evaristus dengan penataan awal pelayanan pastoral di Roma. Liber Pontificalis menyebut ia menugaskan para imam untuk melayani gereja-gereja tituler atau tituli di Roma, serta menetapkan tujuh diakon untuk membantu uskup dalam pelayanan.
Hubungan dengan Tituli dan Paroki
Tituli adalah gereja-gereja awal di Roma yang berasal dari rumah-rumah atau bangunan pribadi yang digunakan untuk ibadah Kristen.
Seiring waktu, mereka menjadi pusat ibadah dan pelayanan bagi umat di lingkungan sekitarnya, sehingga sering dianggap sebagai cikal bakal paroki.
Tradisi menyebut Evaristus menugaskan para imam untuk melayani tituli tersebut.
Namun, para ahli menilai tradisi ini perlu dibaca hati-hati.
Catholic Encyclopedia dan Encyclopedia.com mencatat bahwa pengaitan langsung antara Evaristus dan pembentukan 25 paroki atau tujuh diakon dianggap tidak sepenuhnya dapat dipercaya secara historis.
Yang lebih dapat dipastikan adalah bahwa tituli berkembang menjadi pusat pelayanan lokal pada abad-abad berikutnya, dan kemudian menjadi fondasi bagi sistem paroki di Roma.
Evaristus secara tradisional dihormati sebagai martir dan dipercaya wafat sekitar tahun 107. Tradisi menyebut ia dimakamkan di Vatikan, dekat makam Santo Petrus.
Meskipun demikian, martirnya tidak terbukti secara historis dengan dokumen kontemporer yang jelas.
Catholic Encyclopedia menyatakan bahwa klaim kemartiran Evaristus bersifat tradisional dan belum terbukti secara historis. Encyclopedia.com juga mencatat bahwa tradisi kemartiran itu diragukan karena Santo Ireneus, yang menuliskan tentang para penerus Santo Petrus, tidak menyebut Evaristus sebagai martir.
Hari peringatannya adalah 26 Oktober. Peringatan ini pernah ada dalam kalender liturgi Romawi, tetapi tidak lagi termasuk dalam Kalender Romawi Umum sejak reformasi liturgi tahun 1969.
Warisan Evaristus terletak pada perannya sebagai pemimpin Gereja pada masa formatif.
Ia mewarisi tugas dari para pendahulunya untuk menjaga kesatuan umat, memperkuat pelayanan, dan memastikan iman Kristen tetap hidup di tengah tekanan sosial dan politik.
Beberapa warisan yang dikaitkan dengan namanya adalah:
Penataan pelayanan lokal melalui penugasan imam pada gereja-gereja tituler.
Penguatan diakonat melalui tradisi penunjukan tujuh diakon untuk membantu uskup.
Kesinambungan kepemimpinan apostolik sebagai penerus Klemens I dan salah satu penerus awal Santo Petrus.
Teladan kesetiaan dalam memimpin Gereja pada masa yang belum aman bagi umat Kristen.
Bagi umat Katolik hari ini, Evaristus menjadi pengingat bahwa kepemimpinan gerejawi bukan soal kekuasaan, melainkan pelayanan.
Ia juga mengajarkan pentingnya kesetiaan dalam masa sulit, kerendahan hati dalam melayani, dan kesinambungan iman dari satu generasi ke generasi berikutnya. ***
Komentar
Posting Komentar