📚 PUSTAKA PDF IBADAT SABDA
Kumpulan teks Ibadat Mingguan lengkap - Klik di bawah
👉 BUKA PUSTAKA & DOWNLOAD

Kaul Kekal dan Jubileum SFIC, Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap Ingatkan Makna Pengorbanan dalam Mengikuti Tuhan

Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, memimpin Perayaan Syukur Pesta Hidup Membiara dan Kaul Kekal Keluarga Besar SFIC Provinsi Indonesia di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, Sabtu (24/10/2026). Perayaan ini menjadi ungkapan syukur atas kesetiaan dan pengabdian para suster dalam menjalani panggilan hidup religius.

PRAEDICAREVOICE.COM, PONTIANAK -- Memilih kehidupan membiara berarti bersedia menempuh jalan yang tidak selalu mudah. 

Ada keluarga yang ditinggalkan, kampung halaman yang dijauhkan, serta berbagai kesempatan hidup yang harus dilepaskan. 

Namun, di balik keputusan tersebut tersimpan keyakinan bahwa mengikuti Tuhan menghadirkan makna yang jauh melampaui kenyamanan dan kepentingan diri sendiri.

Pesan tentang makna pengorbanan dan sukacita dalam panggilan hidup religius itu disampaikan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Samuel Oton Sidin OFMCap, dalam homili Perayaan Syukur Pesta Hidup Membiara dan Kaul Kekal Keluarga Besar Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei (SFIC) Provinsi Indonesia.

Perayaan berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak.

Dalam refleksinya, Mgr Samuel mengajak umat merenungkan kembali percakapan antara Rasul Petrus dan Yesus. 

Petrus mengungkapkan bahwa dirinya bersama para murid telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Sang Guru.

Pertanyaan tersebut, menurut Mgr Samuel, menggambarkan pergulatan manusia ketika harus melepaskan sesuatu yang berharga demi sebuah pilihan hidup. 

Ada pertanyaan mendasar mengenai apa arti pengorbanan itu dan apa yang sesungguhnya akan diperoleh setelah seseorang memutuskan mengikuti Tuhan.

Yesus menjawab bahwa siapa pun yang meninggalkan rumah, saudara, orang tua, anak-anak, maupun ladangnya demi Dia dan Injil akan menerima balasan berlipat ganda dalam kehidupan sekarang. 

Meski demikian, perjalanan tersebut juga tidak terlepas dari penganiayaan. 

Pada akhirnya, mereka akan memperoleh kehidupan kekal di zaman yang akan datang.

Dari jawaban Yesus itu, Mgr Samuel menegaskan bahwa panggilan hidup bukanlah sebuah kehilangan yang berakhir pada kehampaan. 

Ada anugerah kebahagiaan yang dapat dirasakan selama hidup di dunia, sekaligus pengharapan akan kehidupan abadi.

Menemukan Kebahagiaan di Tengah Perjalanan Panggilan

Untuk memperdalam pesan tersebut, Mgr Samuel turut menceritakan pengalaman pribadinya ketika mulai mengenal panggilan menjadi imam Kapusin.

Ketertarikannya berawal dari kekaguman terhadap seorang imam Kapusin lanjut usia asal Belanda. 

Sosok imam tersebut meninggalkan kesan mendalam karena dikenal baik, bersahabat, dekat dengan masyarakat, dan tekun menjalankan pelayanan.

“Saya ingin menjadi seperti dia,” kenangnya.

Kekaguman terhadap pribadi imam tersebut menjadi titik awal perjalanan Mgr Samuel mengenal kehidupan dan spiritualitas Fransiskan Kapusin. 

Seiring waktu, ia menyadari bahwa panggilan hidup bukan sekadar meniru seseorang yang dikagumi. 

Lebih dari itu, panggilan merupakan proses menemukan cara untuk menyerahkan diri kepada Tuhan.

Ia mengakui bahwa perjalanan sebagai imam tidak selalu berlangsung dalam keadaan menyenangkan. 

Ada berbagai keterbatasan dan tantangan yang harus dihadapi. Kendati demikian, pilihan hidup tersebut tetap memberinya kebahagiaan.

Baginya, mengikuti Tuhan merupakan kesempatan untuk mempersembahkan seluruh keberadaan diri, termasuk segala kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki.

Mgr Samuel bahkan mengungkapkan bahwa kebahagiaan menjadi salah satu alasan yang menguatkannya memilih kehidupan imamat. 

Kebahagiaan dalam mengikuti Tuhan bukan sesuatu yang harus menunggu kehidupan setelah kematian, tetapi dapat ditemukan dan dialami selama menjalani kehidupan di dunia.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa sukacita sejati tidak identik dengan kehidupan yang selalu bebas dari persoalan. 

Seseorang tidak harus terus tertawa atau berada dalam keadaan menyenangkan untuk dapat disebut bahagia.

Kesedihan, penderitaan, rasa sakit, dan pengalaman yang melukai tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia. 

Namun, kebahagiaan sejati memungkinkan seseorang menghadapi semuanya tanpa kehilangan harapan.

Orang yang memiliki sukacita dalam Tuhan tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan kesulitan. 

Ia juga tidak membiarkan kepahitan menguasai kehidupannya, melainkan tetap mempunyai kekuatan untuk bangkit.

Mengutip spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi, Mgr. Samuel mengatakan, “Sukacita sejati kata Santo Fransiskus membuat saya tegar.”

Kesediaan Melepaskan Segalanya Menjadi Kekuatan Menghadapi Kehidupan

Salah satu pokok penting yang ditekankan dalam homili tersebut adalah hubungan antara keberanian meninggalkan segala sesuatu dan kesiapan menerima berbagai pengalaman dalam kehidupan.

“Kalau kita sudah siap meninggalkan segala-galanya, kita juga siap menghadapi segala-galanya,” tegas Mgr. Samuel.

Pesan tersebut memiliki makna khusus bagi para suster yang merayakan perjalanan hidup membiara selama 60, 50, 40, dan 25 tahun, serta dua suster yang mengikrarkan kaul kekal.

Pengabdian selama puluhan tahun dalam kehidupan religius tentu menyimpan beragam pengalaman. 

Perjalanan tersebut tidak hanya berisi pelayanan yang menggembirakan, tetapi juga tanggung jawab perutusan, perubahan situasi, pengorbanan, dan pengalaman yang mungkin meninggalkan luka batin.

Namun, berbagai dinamika itu merupakan bagian dari proses menghidupi kesetiaan terhadap panggilan.

Mgr Samuel mengajak para suster melihat perjalanan pengabdian mereka secara lebih mendalam. 

Ukuran kesetiaan tidak semata-mata terletak pada panjangnya masa hidup membiara, tetapi juga pada kemampuan memelihara sukacita ketika menghadapi berbagai tantangan.

Ia mengingatkan agar pengalaman sulit tidak membuat seseorang terus hidup dalam kepahitan. 

Kendati fisik dapat mengalami keletihan dan penderitaan, hati tetap bisa memancarkan kegembiraan ketika seseorang bersandar pada kekuatan Tuhan.

Menjalani Panggilan dengan Kesungguhan, Bukan Setengah Hati

Dalam bagian lain homilinya, Mgr Samuel mengingatkan pentingnya kesungguhan dalam menjalani kehidupan religius. Ia mengkritik sikap suam-suam kuku atau sekadar menjalankan sesuatu secara hangat-hangat tahi ayam dalam menghidupi iman.

Menurutnya, keputusan menjadi imam, biarawan, maupun biarawati tidak semestinya didasarkan pada keinginan mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman atau menjauh dari tanggung jawab. 

Kehidupan religius harus dijalani sebagai pilihan sadar yang menuntut kesetiaan dan penyerahan diri secara utuh.

Prinsip kesungguhan tersebut, lanjutnya, tidak hanya berlaku bagi mereka yang menjalani hidup membiara. 

Seluruh umat Katolik juga perlu menghidupi iman dengan sungguh-sungguh.

Doa, devosi Rosario, dan keikutsertaan dalam perayaan Ekaristi hendaknya tidak berhenti sebagai kegiatan rutin. Setiap praktik kehidupan rohani perlu menjadi kesempatan untuk memperdalam iman, melakukan refleksi, dan memperbarui sikap hidup.

“Serius tidak berarti lalu kehilangan sukacita sejati,” ungkapnya.

Karena itu, Mgr. Samuel mengajak umat untuk tidak merasa cukup dengan kehidupan iman yang hanya dijalankan secara formal. Setiap orang perlu terus memperdalam pemahaman terhadap panggilannya dan belajar mempersembahkan diri secara lebih tulus, sungguh-sungguh, serta ikhlas.

Syukur atas Kesetiaan dan Pengabdian Para Suster SFIC

Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut menjadi ungkapan syukur keluarga besar SFIC Provinsi Indonesia. Kongregasi ini dipimpin Sr. Yulita Imelda, SFIC.

Selain menjadi perayaan syukur atas perjalanan hidup membiara para suster yang telah mengabdi selama 60, 50, 40, dan 25 tahun, kesempatan tersebut juga ditandai dengan pengikraran kaul kekal oleh dua suster.

Usai perayaan Ekaristi, rangkaian kegiatan diteruskan dengan acara ramah tamah di Aula Persekolahan Suster Pontianak.

Momen tersebut bukan sekadar peringatan atas panjangnya perjalanan pengabdian para suster. Lebih dari itu, perayaan ini menjadi kesaksian bahwa panggilan hidup religius merupakan komitmen yang terus diperbarui dan dihidupi setiap hari.

Dalam refleksi penutupnya, Mgr Samuel kembali mengingatkan bahwa keputusan meninggalkan segala sesuatu demi mengikuti Tuhan bukanlah sebuah tindakan tanpa arah. 

Di dalamnya terdapat harapan untuk menemukan kebahagiaan, mengalami sukacita dalam pelayanan, dan memperoleh kehidupan kekal.

Mengikuti Tuhan berarti berani mempersembahkan diri, menerima kenyataan bahwa perjalanan hidup tidak selalu mudah, serta tetap melangkah dengan penuh kepercayaan.

Pada akhirnya, segala sesuatu yang ditinggalkan bukanlah akhir dari sebuah kehidupan. Justru melalui penyerahan diri itulah seseorang dapat menemukan makna kehidupan yang lebih dalam bersama Tuhan. ***

Posting Komentar